Pagi
itu terasa angin menerpa tubuhku, rasanya sejuk tidak seperti hari biasanya.
Kupakirkan sepeda merahku disamping bangku taman yang telihat kosong. Aku duduk
sendiri di bangku taman tersebut merasakan kesejukan yang dihembuskan oleh
angin, dan pepohonan yang rindang, kupikir pada saat itu “ah sepertinya ini
waktu yang nyaman untukku membaca sebuah novel yang kubeli di toko buku kemarin
sore”. Aku mulai membaca novel yang ditulis oleh salah satu pengarang terkenal
Dewi Dee Lestari, judul novel itu Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Ada
serangkai kata yang membuatku tertarik dari novel tersebut yakni “bagaikan
jaring laba-laba kehidupan itu saling terhubung”. Saat aku sedang begitu
asiknya membaca novel tiba-tiba konsentrasiku terpecah karena ada seorang
pemotor yang menabrak sepedaku, spontan akupun teriak “hei, lihat-lihat dong
kalau bawa motor”.
Si
pemotor itu membuka helm yang dipakainya lalu kulihat wajahnya sangat pucat,
dia melangkah mendatangiku, saat itu jantungku berdegup entah karena takut atau
memang karna aku tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadaku. Dia
datang kemudian berkata “maaf mba, saya tidak sengaja tadi tiba-tiba saja
kepala saya pusing dan saya menyerempet sepeda mba yang terparkir disitu”.
Karena permintaan maafnya saya kira tulus, pikir saya “ya sudahlah toh saya
juga tidak kenapa-kenapa”. Kemudian setelah aku mengangguk tanda menerima
maafnya pemuda itu pun berlalu meninggalkanku. Dia menaiki sepeda motornya
kemudian bergegas pergi. Ku lanjutkan aktivitas membacaku yang tertunda karena
kejadian tadi setelah aku berdirikan sepedaku lagi. Saat aku melihat jam tangan
ternyata hari sudah cukup siang jam 10.20 kulihat, kuputuskan untuk berangkat
ke kampus.
Kukayuh
sepedaku dengan santai sambil tetap menikmati suasana yang sejuk pagi itu, aku
melewati jalanan yang rindang yang dikanan dan kirinya terdapat pohon besar
sambil terkadang kulihat disebelah kanan ada sungai yang mengalir dan begitu
jernih, ah rasanya indah sekali, aku sangat menikmatinya. Terkadang aku memang
terlalu berlebihan bahagia dengan sesuatu yang sederhana.
Setelah hampir terlalu termenung dengan lamunan yang membawaku entah kemana, akhirnya aku
tersadar bahwa ternyata aku telah sampai di gerbang kampusku, ya gerbang yang
sudah familiar denganku, karena sudah dua minggu ini aku menjalani kegiatan
perkuliahan di tempat ini. Aku berjalan melalui lorong yang biasa ku lewati,
lalu kulihat pemuda yang wajahnya tak asing bagiku, “ah pemuda itu adalah
pemuda yang tadi pagi menabrak sepedaku”. Sesaat mata kami sempat bertemu dan
ia melayangkan senyum kepadaku, aku hanya berlalu melihatnya.
Aku memasuki ruang kuliah ilmu politik, “hei ris, apa kabar?”
panggil nina. “kabarku baik nin” jawabku. Aku duduk dikursi favoritku dekat
dengan jendela sehingga bila aku mulai jenuh dengan kuliah aku akan melihat
sekeliling agar lebih menyegarkan pikiranku. Saat aku menoleh kekanan ternyata
pemuda yang tadi pagi juga mengikuti kelas yang sama denganku, kelas ilmu
politik. Aku bertanya padanya “Kuliah disini juga mas?”. ”ya baru masuk
seharusnya dari kemarin, tetapi aku sakit jadi baru bisa masuk hari ini”. Aku
menganggukan kepala tanda setuju akan perkataannya.
“Selamat Pagi semuanya...” ucap karina yang saat itu memecah
kesunyian yang ada. Ya dia adalah Karina wanita berparas cantik yang memang
dianggap sebagai cover girlnya kampus ini. Tetapi, dia belum mempunyai pasangan
itu yang membuat semua laki-laki mengejarnya dan penasaran dengannya. Kemudian,
tak lama berseling dosen ilmu politik pun memasuki ruangan kuliah “ Ya, Selamat
Pagi”. Dua jam berlalu selesai kuliah aku pikir aku akan ke perpustakaan untuk
sekedar membaca atau menulis novel. Aku memang menjadi orang yang cenderung
introvert atau pendiam bagi mereka yang baru mengenalku. Tetapi, memang berbeda
dengan teman-teman yang sudah lama ku kenal mereka mengenalku sebagai pribadi
yang asik dan menyenangkan. Itu kata mereka.
Aku mengambil beberapa buku yang kuanggap menarik, kemudian
aku mengambil posisi di sudut perpustakaan yang menurutku sangat nyaman untuk
digunakan berlama-lama atau bersantai sendiri. Kubaca beberapa buku, lama-lama
menjenuhkan pikiranku juga, aku mencoba menoleh ke kiri untuk membuat segar
mataku. Aku melihat pemuda itu lagi, aku menghampiri pemuda itu. Kemudian
bertanya, sepertinya aku jadi sering lihat kamu ya”. “Iya karna kita satu
kampus kan” jawabnya. “tapi, walaupun aku sering ketemu kamu, aku belum tahu
siapa namamu”. “perkenalkan aku Sandi, sorry kalo kamu siapa?”. “Aku Risa,
sorry ya kalo sudah ganggu silahkan lanjutkan membacanya aku kesana dulu”.
Aku tersenyum sendiri, mengingat betapa seringnya aku bertemu
dengan pemuda itu. Entah apa yang akan terjadi berikutnya pikirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar