Jumat, 18 Maret 2016

TO BE CONTINUED

Pagi itu terasa angin menerpa tubuhku, rasanya sejuk tidak seperti hari biasanya. Kupakirkan sepeda merahku disamping bangku taman yang telihat kosong. Aku duduk sendiri di bangku taman tersebut merasakan kesejukan yang dihembuskan oleh angin, dan pepohonan yang rindang, kupikir pada saat itu “ah sepertinya ini waktu yang nyaman untukku membaca sebuah novel yang kubeli di toko buku kemarin sore”. Aku mulai membaca novel yang ditulis oleh salah satu pengarang terkenal Dewi Dee Lestari, judul novel itu Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Ada serangkai kata yang membuatku tertarik dari novel tersebut yakni “bagaikan jaring laba-laba kehidupan itu saling terhubung”. Saat aku sedang begitu asiknya membaca novel tiba-tiba konsentrasiku terpecah karena ada seorang pemotor yang menabrak sepedaku, spontan akupun teriak “hei, lihat-lihat dong kalau bawa motor”.
Si pemotor itu membuka helm yang dipakainya lalu kulihat wajahnya sangat pucat, dia melangkah mendatangiku, saat itu jantungku berdegup entah karena takut atau memang karna aku tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadaku. Dia datang kemudian berkata “maaf mba, saya tidak sengaja tadi tiba-tiba saja kepala saya pusing dan saya menyerempet sepeda mba yang terparkir disitu”. Karena permintaan maafnya saya kira tulus, pikir saya “ya sudahlah toh saya juga tidak kenapa-kenapa”. Kemudian setelah aku mengangguk tanda menerima maafnya pemuda itu pun berlalu meninggalkanku. Dia menaiki sepeda motornya kemudian bergegas pergi. Ku lanjutkan aktivitas membacaku yang tertunda karena kejadian tadi setelah aku berdirikan sepedaku lagi. Saat aku melihat jam tangan ternyata hari sudah cukup siang jam 10.20 kulihat, kuputuskan untuk berangkat ke kampus.
Kukayuh sepedaku dengan santai sambil tetap menikmati suasana yang sejuk pagi itu, aku melewati jalanan yang rindang yang dikanan dan kirinya terdapat pohon besar sambil terkadang kulihat disebelah kanan ada sungai yang mengalir dan begitu jernih, ah rasanya indah sekali, aku sangat menikmatinya. Terkadang aku memang terlalu berlebihan bahagia dengan sesuatu yang sederhana.

Setelah hampir terlalu termenung dengan lamunan yang membawaku entah kemana, akhirnya aku tersadar bahwa ternyata aku telah sampai di gerbang kampusku, ya gerbang yang sudah familiar denganku, karena sudah dua minggu ini aku menjalani kegiatan perkuliahan di tempat ini. Aku berjalan melalui lorong yang biasa ku lewati, lalu kulihat pemuda yang wajahnya tak asing bagiku, “ah pemuda itu adalah pemuda yang tadi pagi menabrak sepedaku”. Sesaat mata kami sempat bertemu dan ia melayangkan senyum kepadaku, aku hanya berlalu melihatnya.
Aku memasuki ruang kuliah ilmu politik, “hei ris, apa kabar?” panggil nina. “kabarku baik nin” jawabku. Aku duduk dikursi favoritku dekat dengan jendela sehingga bila aku mulai jenuh dengan kuliah aku akan melihat sekeliling agar lebih menyegarkan pikiranku. Saat aku menoleh kekanan ternyata pemuda yang tadi pagi juga mengikuti kelas yang sama denganku, kelas ilmu politik. Aku bertanya padanya “Kuliah disini juga mas?”. ”ya baru masuk seharusnya dari kemarin, tetapi aku sakit jadi baru bisa masuk hari ini”. Aku menganggukan kepala tanda setuju akan perkataannya.
“Selamat Pagi semuanya...” ucap karina yang saat itu memecah kesunyian yang ada. Ya dia adalah Karina wanita berparas cantik yang memang dianggap sebagai cover girlnya kampus ini. Tetapi, dia belum mempunyai pasangan itu yang membuat semua laki-laki mengejarnya dan penasaran dengannya. Kemudian, tak lama berseling dosen ilmu politik pun memasuki ruangan kuliah “ Ya, Selamat Pagi”. Dua jam berlalu selesai kuliah aku pikir aku akan ke perpustakaan untuk sekedar membaca atau menulis novel. Aku memang menjadi orang yang cenderung introvert atau pendiam bagi mereka yang baru mengenalku. Tetapi, memang berbeda dengan teman-teman yang sudah lama ku kenal mereka mengenalku sebagai pribadi yang asik dan menyenangkan. Itu kata mereka.
Aku mengambil beberapa buku yang kuanggap menarik, kemudian aku mengambil posisi di sudut perpustakaan yang menurutku sangat nyaman untuk digunakan berlama-lama atau bersantai sendiri. Kubaca beberapa buku, lama-lama menjenuhkan pikiranku juga, aku mencoba menoleh ke kiri untuk membuat segar mataku. Aku melihat pemuda itu lagi, aku menghampiri pemuda itu. Kemudian bertanya, sepertinya aku jadi sering lihat kamu ya”. “Iya karna kita satu kampus kan” jawabnya. “tapi, walaupun aku sering ketemu kamu, aku belum tahu siapa namamu”. “perkenalkan aku Sandi, sorry kalo kamu siapa?”. “Aku Risa, sorry ya kalo sudah ganggu silahkan lanjutkan membacanya aku kesana dulu”.
Aku tersenyum sendiri, mengingat betapa seringnya aku bertemu dengan pemuda itu. Entah apa yang akan terjadi berikutnya pikirku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar